Saat Dakwah Membawamu ke Puncak,....!!!

Saat Dakwah Membawamu ke Puncak
Segala puji yang menyampaikan kita kepada manisnya iman dan kenikmatan bergabung bersama pasukanNya.

Sebelumnya, mungkin tak terbayangkan bahwa dakwah sampai ke titik ini. Jalan seakan terbentang luas dan langkah-langkah terobosan dakwah ini mendapat sambutan yang menggembirakan. Ketakutan yang berlebihan terhadap pelaku dakwah meski stigma teroris, fundamentalis, ekstrimis acapkali dilekatkan kepadanya, tak mendapat tanggapan berarti dari para mad’u dakwah. Sehingga kecewalah mereka yang meniup-niup kabar buruk untuk menghinakan Islam dan kaum muslimin. Sebaliknya, kader-kader dakwah mengisi posisi strategis di pemerintahan, menjadi yang ditokohkan atau sebagai faktor berpengaruh terhadap lingkungan sekitarnya.

Ada yang karena keberhasilannya menjadi konsultan keluarga, ia terkenal sebagai penceramah handal keluarga. Ada pula yang sukses menulis novel dan buku, sehingga setiap kali buku barunya diluncurkan, publik tak menebak “siapa sih penulisnya”. Ada pula yang banyak dikenal  karena sebagai trainer pengembangan diri yang disukai karena motivasinya selalu baru dan melecut semangat. Ada pula yang omongannya didengar para pejabat karena beliau anggota dewan yang terkenal bersih dan konsisten.

Yang tak boleh lupa kita lakukan adalah bermuhasabah terus menerus agar saat berada di puncak, “nama besar” yang melekat tak membuat kita jauh dari asholah dakwah.  Karena bagaimana pun, tak mungkin kita pungkiri, keberhasilan itu diraih oleh kader dakwah karena kerja keras yang mereka lakukan,Kalaupun, misalnya, mereka mengatakan, “Mengapa setelah kita berhasil, dakwah mengharapkan kita untuk membawa-bawa namanya, padahal kan kita tak pernah merasa diback up  oleh dakwah. Nama besar kita kan tak dicetak oleh dakwah, juga bukan  karena kita dikenal sebagai  kader dakwah. Jadi sekarang dakwah jangan menambah beban saya dong!”

Tak usah merasa tersinggung dengan pernyataan ini, meski pernyataan ini bisa jadi hanya muncul di dalam hati. Kita bisa mendiskusikannya panjang lebar, sebenarnya. Kita bisa melakukan survey, siapa saja yang menerima dirinya, apakah murni orang di luar sebaran dakwah, atau justru ia dibesarkan oleh kader internal dakwah dan akhirnya dikenal oleh orang –orang di luarnya. Tetapi apakah semua itu penting kita lakukan?

Sejak awal kita telah diajari oleh tarbiyah yang kita ikuti, bahwa segala macam eksistensi diri, prestasi duniawi dan keberhasilan kerja tak bermakna apa-apa tanpa keridhoan Allah. Dan keberkahan dari segalanya adalah bila kita mampu menyelaraskannya dengan kepentingan dakwah dan jamaah, karena keberkahan dakwah adalah sesuatu yang tak bisa diukur nilainya.

Cobalah kita tengok generasi awal dulu ketika para muasis itu mulai merintis dakwah. Sekitar tahun 84, seorang murrabi rela berjalan dari Bogor ke Tanah Abang untuk menyampaikan dakwah karena tak ada dana yang bisa digunakannya untuk sekedar naik kendaraan umum.

Ada pula yang terpaksa berbohong dengan kondektur bus antar kota. “Mau turun di mana?” tanya si kondektur. Sang dai menjawab, “Tuh di depan, di pasar.” Ia serahkan uang seadanya, lalu ia pura-pura tidur. Ketika dibangunkan karena jarak tempuhnya terlalu jauh dengan uang yang dia serahkan, ia pura-pura terkejut, turun, dan menyambung lagi dengan bus yang baru. Dan peristiwa tadi berulang, agar ia bisa menyampaikan dakwah ke para mutarobbinya yang telah menunggu dengan penuh harap.

Ada pula yang terpaksa berputar-putar tempat kuliah. Tahun ini di universitas ini, tahun depan pindah di sini, besoknya lagi di tempat yang lain lagi, sampai ia tak sempat menamatkan kuliahnya. Hanya satu tujuannya, agar ia bisa membuka halaqoh baru di tempat-tempat baru!

Yang tak kalah mengharukannya, seorang pemuda mengisi daurah para sarjana selama tiga hari. Senin paginya ia memakai seragam abu-abu karena hendak berangkat ke SMAnya. Sampai-sampai yang diisinya terkejut, tak menyangka! Dakwah telah mendewasakannya, jauh melampaui batas umurnya.

Sadarilah, kita dibesarkan oleh para murabi dan syuyukh yang seperti ini. Mungkin jauh di luar batas ambang pikiran kita atau mungkin pula sebaliknya, kita berkomentar, “Ah itu kan masa lalu! Sekarang-sekarang dong!” Tetapi adakah di antara kita yang mampu “menyaingi” mereka, satu orang memiliki halaqoh sebanyak 12 di luar kota dan 21 halaqoh di dalam kota? Tak usah berpikir bagaimana mereka mengaturnya. Yang jelas, mereka tak pernah digaji yang disesuaikan dengan amanah dakwah dan jumlah halaqoh yang mereka miliki! Mereka juga tak pernah dipublikasikan media dengan prestasi itu. Mereka tak menjadi terkenal dan dielu-elukan ibarat seorang bintang setiap kali hendak atau usai tampil di panggung mengisi ceramah.

Kekuatan inti dakwah dan jamaah ini adalah personil. Personil yang memiliki komitmen kuat untuk mewakafkan dirinya di jalan Allah. Personil yang mengerti betul dan menjalani aktivitas hidupnya untuk membesarkan dakwah dan meninggikan kalimatNya. Kekuatan dakwah tidak ditentukan oleh berapa banyak kantor yang kita miliki, kendaraan dinas yang berhasil dibeli atau laba perusahaan yang meningkat setiap tahunnya, tetapi sekali lagi oleh junud, kader-kadernya.

Bila banyak orang di luar sana yang berharap agar kebangkitan Islam mulai dari negeri ini, tentu menata ulang personil dakwah agar berdiri sebagaimana layaknya, tentu harus selalu terus-menerus dilakukan. Tarbiyah istimror, terus-menerus, dengan berbagai riayah adalah salah satu kunci penjaganya. Juga kepemimpinan yang patut diteladani dengan segala kebijaksanaan yang penuh bashiroh, juga merupakan kunci yang lain.

Kita tetap membutuhkan prestasi personil kader dakwah, agar dakwah ini tak terbatas. Tetapi sadarilah, tanpa dakwah yang telah “melahirkan dan mencetak” kita sehingga kita sampai di sini, kita bukan berarti apa-apa. Saat dakwah membawamu sampai ke puncak, saudaraku, lakukanlah perenungan yang hanya disaksikan oleh Allah: adakah jalanku ini justru membawaku jauh dari jamaah dakwah? [RKI]

0 Response to "Saat Dakwah Membawamu ke Puncak,....!!!"

Posting Komentar

Terimakasih Atas Kunjungan Anda "PKS Petiir--Dari Pelosok Banten Bekerja Membangun Indonesia Tercinta"

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...