Segala puji yang menyampaikan kita kepada manisnya iman dan
kenikmatan bergabung bersama pasukanNya.
Sebelumnya, mungkin tak
terbayangkan bahwa dakwah sampai ke titik ini. Jalan seakan terbentang
luas dan langkah-langkah terobosan dakwah ini mendapat sambutan yang
menggembirakan. Ketakutan yang berlebihan terhadap pelaku dakwah meski
stigma teroris, fundamentalis, ekstrimis acapkali dilekatkan kepadanya,
tak mendapat tanggapan berarti dari para mad’u dakwah. Sehingga
kecewalah mereka yang meniup-niup kabar buruk untuk menghinakan Islam
dan kaum muslimin. Sebaliknya, kader-kader dakwah mengisi posisi
strategis di pemerintahan, menjadi yang ditokohkan atau sebagai faktor
berpengaruh terhadap lingkungan sekitarnya.
Ada yang karena keberhasilannya menjadi konsultan keluarga, ia
terkenal sebagai penceramah handal keluarga. Ada pula yang sukses
menulis novel dan buku, sehingga setiap kali buku barunya diluncurkan,
publik tak menebak “siapa sih penulisnya”. Ada pula yang banyak dikenal
karena sebagai trainer pengembangan diri yang disukai karena
motivasinya selalu baru dan melecut semangat. Ada pula yang omongannya
didengar para pejabat karena beliau anggota dewan yang terkenal bersih
dan konsisten.
Yang tak boleh lupa kita lakukan adalah bermuhasabah terus menerus
agar saat berada di puncak, “nama besar” yang melekat tak membuat kita
jauh dari asholah dakwah. Karena bagaimana pun, tak mungkin kita
pungkiri, keberhasilan itu diraih oleh kader dakwah karena kerja keras
yang mereka lakukan,Kalaupun, misalnya, mereka mengatakan, “Mengapa setelah kita
berhasil, dakwah mengharapkan kita untuk membawa-bawa namanya, padahal
kan kita tak pernah merasa diback up oleh dakwah. Nama besar
kita kan tak dicetak oleh dakwah, juga bukan karena kita dikenal
sebagai kader dakwah. Jadi sekarang dakwah jangan menambah beban saya
dong!”
Tak usah merasa tersinggung dengan pernyataan ini, meski pernyataan
ini bisa jadi hanya muncul di dalam hati. Kita bisa mendiskusikannya
panjang lebar, sebenarnya. Kita bisa melakukan survey, siapa saja yang
menerima dirinya, apakah murni orang di luar sebaran dakwah, atau justru
ia dibesarkan oleh kader internal dakwah dan akhirnya dikenal oleh
orang –orang di luarnya. Tetapi apakah semua itu penting kita lakukan?
Sejak awal kita telah diajari oleh tarbiyah yang kita ikuti, bahwa
segala macam eksistensi diri, prestasi duniawi dan keberhasilan kerja
tak bermakna apa-apa tanpa keridhoan Allah. Dan keberkahan dari
segalanya adalah bila kita mampu menyelaraskannya dengan kepentingan
dakwah dan jamaah, karena keberkahan dakwah adalah sesuatu yang tak bisa
diukur nilainya.
Cobalah kita tengok generasi awal dulu ketika para muasis itu mulai
merintis dakwah. Sekitar tahun 84, seorang murrabi rela berjalan dari
Bogor ke Tanah Abang untuk menyampaikan dakwah karena tak ada dana yang
bisa digunakannya untuk sekedar naik kendaraan umum.
Ada pula yang terpaksa berbohong dengan kondektur bus antar kota.
“Mau turun di mana?” tanya si kondektur. Sang dai menjawab, “Tuh di
depan, di pasar.” Ia serahkan uang seadanya, lalu ia pura-pura tidur.
Ketika dibangunkan karena jarak tempuhnya terlalu jauh dengan uang yang
dia serahkan, ia pura-pura terkejut, turun, dan menyambung lagi dengan
bus yang baru. Dan peristiwa tadi berulang, agar ia bisa menyampaikan
dakwah ke para mutarobbinya yang telah menunggu dengan penuh harap.
Ada pula yang terpaksa berputar-putar tempat kuliah. Tahun ini di
universitas ini, tahun depan pindah di sini, besoknya lagi di tempat
yang lain lagi, sampai ia tak sempat menamatkan kuliahnya. Hanya satu
tujuannya, agar ia bisa membuka halaqoh baru di tempat-tempat baru!
Yang tak kalah mengharukannya, seorang pemuda mengisi daurah para
sarjana selama tiga hari. Senin paginya ia memakai seragam abu-abu
karena hendak berangkat ke SMAnya. Sampai-sampai yang diisinya terkejut,
tak menyangka! Dakwah telah mendewasakannya, jauh melampaui batas
umurnya.
Sadarilah, kita dibesarkan oleh para murabi dan syuyukh yang seperti
ini. Mungkin jauh di luar batas ambang pikiran kita atau mungkin pula
sebaliknya, kita berkomentar, “Ah itu kan masa lalu! Sekarang-sekarang
dong!” Tetapi adakah di antara kita yang mampu “menyaingi” mereka, satu
orang memiliki halaqoh sebanyak 12 di luar kota dan 21 halaqoh di dalam
kota? Tak usah berpikir bagaimana mereka mengaturnya. Yang jelas, mereka
tak pernah digaji yang disesuaikan dengan amanah dakwah dan jumlah
halaqoh yang mereka miliki! Mereka juga tak pernah dipublikasikan media
dengan prestasi itu. Mereka tak menjadi terkenal dan dielu-elukan ibarat
seorang bintang setiap kali hendak atau usai tampil di panggung mengisi
ceramah.
Kekuatan inti dakwah dan jamaah ini adalah personil. Personil yang
memiliki komitmen kuat untuk mewakafkan dirinya di jalan Allah. Personil
yang mengerti betul dan menjalani aktivitas hidupnya untuk membesarkan
dakwah dan meninggikan kalimatNya. Kekuatan dakwah tidak ditentukan oleh
berapa banyak kantor yang kita miliki, kendaraan dinas yang berhasil
dibeli atau laba perusahaan yang meningkat setiap tahunnya, tetapi
sekali lagi oleh junud, kader-kadernya.
Bila banyak orang di luar sana yang berharap agar kebangkitan Islam
mulai dari negeri ini, tentu menata ulang personil dakwah agar berdiri
sebagaimana layaknya, tentu harus selalu terus-menerus dilakukan.
Tarbiyah istimror, terus-menerus, dengan berbagai riayah adalah salah
satu kunci penjaganya. Juga kepemimpinan yang patut diteladani dengan
segala kebijaksanaan yang penuh bashiroh, juga merupakan kunci yang
lain.
Kita tetap membutuhkan prestasi personil kader dakwah, agar dakwah
ini tak terbatas. Tetapi sadarilah, tanpa dakwah yang telah “melahirkan
dan mencetak” kita sehingga kita sampai di sini, kita bukan berarti
apa-apa. Saat dakwah membawamu sampai ke puncak, saudaraku, lakukanlah
perenungan yang hanya disaksikan oleh Allah: adakah jalanku ini justru
membawaku jauh dari jamaah dakwah? [RKI]

0 Response to "Saat Dakwah Membawamu ke Puncak,....!!!"
Posting Komentar
Terimakasih Atas Kunjungan Anda "PKS Petiir--Dari Pelosok Banten Bekerja Membangun Indonesia Tercinta"