Center for Indonesian Reform (CIR) mencurigai adanya kalangan
luar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sengaja ingin menghancurkan
citra partai berlambang bulan sabit kembar dan padi itu, untuk
menurunkan suaranya di Pemilu 2014 mendatang.
"PKS ada skenario
dari kalangan eksternal yang ingin menjatuhkan PKS. Skenario untuk
menjatuhkan PKS terlihat justru dari kejanggalan pemeriksaan KPK (Komisi
Pemberantasan Korupsi)," kata Direktur Eksekutif CIR, Sapto Waluyo
dalam rilisnya yang diterima Sindonews, Sabtu (2/2/2013).
Menurutnya,
mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) tidak tertangkap tangan
menerima suap, tapi datang sendiri ke kantor KPK dengan sukarela.
Sebenarnya, Luthfi bisa bilang akan datang besok paginya, karena malam
itu memang tak ada pemeriksaan, hanya ditanya identitas dan kondisi
kesehatan.
"LHI diduga terkait suap hanya karena pengakuan
seorang tersangka, sampai sekarang KPK belum membuka apa itu dua alat
bukti yang dinilai cukup. Jangan sampai nanti terjadi perubahan atau
penambahan alat bukti karena dakwaan suap, misalnya, dinilai lemah. Di
situlah, profesionalitas KPK diuji," tandasnya.
Selain itu dia
mengungkapkan kejanggalan lain, adanya kunjungan Duta Besar (Dubes)
Amerika Serikat (AS) ke gedung lembaga antikorupsi tersebut. Dibalik
kunjungan itu, dia mencurigai adanya kepentingan.
"Di tengah
kejanggalan itu, kita lihat ada keanehan lain, misal kunjungan Dubes AS
ke kantor KPK pada saat bersamaan dengan penangkapan tersangka suap
daging impor. Jelas AS berkepentingan dengan isu daging impor karena
Pemerintah RI (Kementan) sedang membatasi importasi pangan demi
meningkatkan kesejahteraan peternak domestik. Apalagi, impor daging dari
AS (dan negara lain) diduga ada yang bercampur daging sapi dan babi,"
paparnya.
Maka itu dia mengatakan, sikap Fraksi PKS jelas dan
tegas mendukung pembatasan impor demi swasembada daging. Itu yang
membuat marah para importir dan tentu pengusaha daging luar negeri.
"Pimpinan
KPK jangan berpura-pura naif atau tak tahu terhadap lingkungan makro
itu. Tepat pada hari penangkapan, juga ada berita mengagetkan tentang
penyimpangan pajak keluarga istana. Mengapa KPK tak mengusut laporan
yang berdasarkan temuan resmi Dirjen Pajak itu?" keluhnya.
Dia
menyatakan, tugas KPK memeriksa kekayaan pejabat publik, apalagi ini top
figures. Laporan media massa lebih kuat dari pada sekadar laporan
'anggota masyarakat' tentang kasus suap.
"Anggota masyarakat itu
siapa sih, apa KPK tidak curiga dia juga terlibat suap? Misalnya,
pelapor itu sesama importir yang merasa tersisihkan, atau dia pejabat di
Kementan yang pernah disingkirkan? KPK kan harus menguji kredibilitas
pelapor dan itu semua wajib diberkas (BAP), meski mungkin nanti tidak
berani ditampilkan di pengadilan," tandasnya.
http://m.sindonews.com/read/2013/02/02/13/713578/kejanggalan-dalam-kasus-luthfi-hasan-ishaaq
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 Response to "Skenario Kejanggalan dalam Kasus LHI"
Posting Komentar
Terimakasih Atas Kunjungan Anda "PKS Petiir--Dari Pelosok Banten Bekerja Membangun Indonesia Tercinta"