Jangan Nodai Makna Jihad

Tidak sah jihad dengan mengambil hak orang lain.

JAKARTA -- Perampokan Bank CIMB Niaga di Medan, Sumatra Utara, pada 18 Agustus lalu menimbulkan keprihatinan ulama, karena diduga dilakukan oleh kelompok teroris yang sedang mengobarkan
jihad. Jihad dalam berbagai bentuknya termasuk jihad perang, yang merupakan amalan utama dalam Islam, tak sepatutnya dikotori oleh aspek-aspek yang haram.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah bidang Tarjih, Tajdid, dan Pemikiran Agama, Yunahar Ilyas, mengatakan, tindakan merampok mengatasnamakan agama bertentangan dengan Islam. Tindakan tersebut menggunakan Islam sebagai kedok, padahal murni kriminal. "Apa pun alasannya, tetap saja kriminal dan tak ada kaitannnya dengan Islam," kata Yunahar, Senin (27/9)

Dia mengingatkan, anggapan bahwa harta yang mereka rampok adalah harta rampasan (fa’i) tidak benar. Sebab, harta fa’i diperoleh dalam kondisi benar-benar perang. Sedangkan di Indonesia tak ada perang. Demikian pula pendapat bahwa Indonesia bukan darul Islam sehingga boleh merampas harta siapa pun. Padahal, Indonesia adalah negara mayoritas Muslim sehingga dilarang berbuat makar.

Cara yang digunakan oleh teroris juga bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar agama. Ada tiga hal yang menjadi ukuran suatu tindakan bisa dikategorikan Islami, yaitu niat, cara, dan pelaksanaan yang baik. Ketiga hal itu harus berada dalam koridor syar'i. Sekalipun niatnya benar, bila ditempuh dengan cara yang salah maka tetap salah.

Hal senada diungkapkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj. Menurutnya, tindakan terorisme yang mengatasnamakan Islam, tak terkecuali aksi merampok bank, merusak citra luhur Islam yang tak pernah membenarkan aksi terorisme, apalagi merampok dan mencuri harta orang lain. "Tidak sah sekalipun jihad ditempuh dengan mengambil hak orang lain," kata Said.

Sekretaris Jenderal Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars (ICIS) Hasyim Muzadi juga menilai, perampokan untuk jihad hukumnya haram. Sebab, yang ada dalam Islam adalah pembagian rampasan perang. Sedangkan otoritas untuk menyatakan perang berada dalam wewenang negara, bukan oleh kelompok yang semaunya menyerukan perang.

Ketua Umum PP Persatuan Islam Maman Abdurrahman mengingatkan, kondisi Indonesia sangat aman sehingga alasan perampokan untuk jihad sangat tidak mendasar. Berjihad perang lebih baik di Afghanistan, Irak, atau Pales tina. Bila mereka mau berjuang untuk kepentingan agama di Indonesia, Maman menganjurkan melalui partai politik.

Jangan tiru Bush

Hasyim mengkritik perang Polri terhadap terorisme yang dipertontokan sekarang tak ubahnya aksi pre amptive action (pukul dulu urusan belakang) ala George W Bush, mantan presiden Amerika Serikat.

Metode ini dianggap gagal bahkan membawa Amerika pada kemerosotan. Anehnya Indonesia yang tempo hari berhasil menyeret teroris ke meja hijau dan kemudian dihukum mati seperti Amrozi cs telah bergeser meniru cara Bush yang kedaluwarsa. Padahal, Indonesia mendapatkan pujian internasional saat menangani kasus Amrozi.

Hasyim mengingatkan, bila pola semacam ini berlanjut maka Polri bisa kelelahan, sementara teroris justru akan semakin meningkatkan militansinya dan kemudian berani bertindak brutal. Apalagi, tindakan Polri sampai saat ini belum mendapat dukungan opini atau partisipasi masyarakat Muslim indonesia. "Pembuktian Polri masih ditunggu melalui transparansi pengadilan," kata dia. cr1 ed: rahmad budi harto

0 Response to "Jangan Nodai Makna Jihad"

Posting Komentar

Terimakasih Atas Kunjungan Anda "PKS Petiir--Dari Pelosok Banten Bekerja Membangun Indonesia Tercinta"

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...